Another Templates

MENGAIL BERKAH PRODUK SYARIAH

Riset Akuntansi

1. Hasil Penelitian Akuntansi
Judul : MENGAIL BERKAH PRODUK SYARIAH
Penulis : Prananda Herdiawan, Salim Shahab, dan
Achmad Adhito Hatanto
Waktu Penerbitan : 24 September 2003
Nama Majalah : Warta Ekonomi
Lembaga Penerbit : PT. OBOR SARANA UTAMA
Volume & Nomor Majalah : No. 19 / XV / 24 September 2003
Hal. 44-46, Hal. 48, dan Hal. 50

2. Komponen-komponen (urutan) dalam hasil penelitian akuntansi ini :
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Kajian Penulis
1.3 Pendapat Para Ahli
2. PEMBAHASAN
2.1 Tumbuh Lebih Besar
2.2 Ciri Ekonomi Pasar
2.3 Kinerja Produk Syariah
2.4 Kelebihan dan Kekurangan Produk Syariah

3. Jurnal ini merupakan Basic Research atau Riset Metode
Ilmiah / Saintifik





MENGAIL BERKAH
PRODUK SYARIAH

Produk investasi syariah terbukti memberikan hasil lebih menarik ketimbang produk konvensional. Saat suku bunga jeblok, ada yang memberikan potensi keuntungan per tahun. Cuma, hati-hati, prinsip bagi hasil lebih beresiko. Tren pertumbuhan lembaga keuangan syariah juga berdampak pada makin banyaknya ragam produk investasi. Perbankan syariah memiliki tiga produk, yakni tabungan, deposito, dan giro. Perbedaan prinsipnya terletak pada mekanisme pembagian keuntungan dan model pengelolaan dana. Di bank konvensional, nasabah memperoleh keuntungan secara pasti berdasarkan tingkat suku bunga yang dijanjikan. Adapun model pembagian keuntungan di bank syariah memakai prinsip mudharabah (bagi hasil). Untuk pembagian porsi keuntungan (nisbah), di masing-masing bank berbeda. Cuma umumnya bagian nasabah selalu lebih tinggi ketimbang bank.
Pada prinsipnya, konsep syariah bertujuan membangun pola ekonomi yang lebih berkeadilan, termasuk dalam menari keuntungandan berbagi resiko.Berpijak pada prinsip tersebut, pembuktain bahwa investasi syariah memang menguntungkan menjadi penting. Dan ini sebenarnya tidak sulit. Sebab saat suku bunga makin turun, prinsip bagi hasil biasanya memberikan keuntungan yang lebih baik. Teorinya, jika tingkat suku bunga makin jeblok, investasi ke sektor riil biasanya lebih menarik. Prinsip bagi hasil sebenarnya adalah bentuk lain dari investasi langsung karena masing-masing pihak memikul tingkat resiko yang seimbang. Contohnya,saat bank gagal mengantongi untung dari investasinya, nasabah turut menanggung resiko berupa investasinya tidak tumbuh. Prinsip yang sama berlaku sebalikny. Konsep inilah yang secara sederhana membedakannya dengan produk investasi bank konvensional.
Perkembangan bank syariah selama ini banyak mengandalkan simbol-simbol keagamaan. Padahal, diasadari atau tidak, simbol-simbol tersebut justru membelenggu perkembangan bak syariah itu sendiri. Menilik modelnya, investasi syariah mempunyai resiko yang lebih tinggi. Konsep bagi hasil tak mampu memberikan patokan tingkat penghasilan yang pasti. Ketergantungan terhadap kepiawaian pengelola dana menjadi sangat tinggi. Bisa atau tidaknya pihak yang mengelola dana akan sangat berdampak pada hasil yang bisa diperoleh investor. Contohnya, ketika kinerja bank syariah jeblok, deposito nasabah juga tidak berkembang. Resiko inilah yang tidak dipikul deposan bank konvensional, sehingga kendati bank mengalami kerugian, investasi yang ditanam bisa tetap tumbuh. Ini nilai tambah produk konvensional dibanding produk investasi syariah. Cuma sebenarnya salah besar jika konsep investasi syariah dianggap ekslusif. Pada prakteknya, antara investasi syariah dan konvensional, perbedaannya Cuma pada model pengelolaannya yang berpijak pada norma-norma dan etika islami. Salah satu prinsip investasi syariah ridho atau tanpa paksaan, yang juga ciri ekonomi pasar. Kedua, adil, ketiga transaksinya berpijak pada kegiatan produksi dan jasa yang tidak dilarang oleh islam, termasuk bebas manipulasi, spekulasi, dan riba. Maslah ini sampia sekaang masih diperdebatkan. “Jadi tujuannya untuk menciptakan dan mencapai tata ekonomi yang lebih beretika.”, kata Zainul Arifin, pakar ekonomi syariah.
Menurut Zainul, kontroversi produk investasi syariah sebenarnya mengerucut pada larangan boleh tidaknya memperoleh hasil bunga. Masalah ini sampai sekarang masih ramai diperdebatkan. Padahal, menurut dia, pengertian riba tidak cuma terbatas pada hasil bunga. Riba juga timbul dari praktek utang piutang dan perdagangan. Contohnya, sale and lease back dan short selling yang cenderung spekulasi. “Pada dasarnya kami tidak boleh memperjualbelikan sesuatu yang belum tentu ada, dan mungkin saja tidak terjadi.”, kata Zainul.
Sementara itu, di asuransi perbedaannya terletak pada model pengelolaan resiko.Di asuransi konvensional resiko dipindahkan dari klien ke perusahaan. Adapun di asuransi syariah resiko tersebut ditanggung bersama-sama. “Jadi, resiko tidak menjadi beban perusahaan, namun tanggungan bersama.”, kata Agus Haryadi, PresDir PT Asuransi Takaful Keluarga. Dengan model seperti itu, kata Agus, dana peserta dibagi menjadi dua: dana investasi dan dana kumpulan peserta (tabarru’). Dana investasi murni menjadi hak peserta, sedangkan tabarru’ merupakan penyisihan dari premi yang memang diikhlaskan untuk menjadi dana bersama. Dana inilah yang digunakan utnk membayar klaim.
Seluruh dana tersebut kemudian dikelola oleh pihak asuransi ke berbagai bentuk investasi. Disinilah nilai tambah asuransi syariah ketimbang konvensional. Pasalnya, ada garis tegas yang memisahkan dana pemegang saham dengan dana peserta. Dana peserta ini kemudian diinvestasikan. Setelah dipotong biaya usaha, hasilnya akan dibagi berdasarkan kesepakatan awal. Cuma umumnya, porsi untuk peserta lebih besar ketimbang yang diperoleh pihak asuransi.
Kendati model investasi syariah berkembang pesat, produk investasinya masih sedikit. Oleh sebab itu, memperbanyak ragam produk menjadi tantang terberat. Ini juga harus dibarengi dengan peubahan strategi pemasaran. Pola pikir yang mengedepankan simbol-simbol harus ditinggalkan. Akan lebih efektif jika lembaga keuangan syariah menonjolkan hal-hal yang lebih rasional dan universal. Sebab jika mau jujur, kebanyakan masyarakat indonesia tidak termasuk golongan loyalitas syariah. Sebagian besar adalah pasar rasional yang mengutamakan untung-rugi dari setiap langkah investasi. Oleh karena itu, memberikan bagi hasil yang menarik dan menawarkan kemudahan serta keungggulan layanan menjadi lebih menarik.

0 comments:

Poskan Komentar